PERAN ARSITEK DI SIMPANG JALAN




KETIKA kehidupan berkembang lebih kompleks, dan perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya berbagai cabang pengetahuan dalam lingkup disiplin ilmu masing-masing, maka kedudukan arsitek sedikit demi sedikit “menurun”. Begitu banyak batasan arsitektur yang telah dirumuskan, dan di antaranya banyak pula yang saling bertentangan satu sama lainnya. Apalagi sekarang ini, arsitektur terikat pada berbagai bidang, seperti sosiologi, perancangan, politik, psikologi, konstruksi, rasionalisasi, formalisme atau pada unsur-unsur populer arsitektur lainnya, maka batasan arsitektur akan selalu berkembang. Kemampuan arsitek untuk menguasai berbagai pengetahuan yang berkembang demikian pesat itu menjadi sangat terbatas. Sementara pada dirinya tetap dituntut kepekaan yang lebih tinggi terhadap perubahan-perubahan sosial yang tak terduga, sebab daya imaginasi dan kreatifitas yang jernih dan subur sangat dibutuhkan untuk dapat menuangkan berbagai kebutuhan.
Arsitek masih mempunyai tujuan dan peran yang demikian khusus, meskipun lama-kelamaan hanya mampu berperan sebagai pengelola atau pimpinan dari berbagai keilmuan, ketrampilan, cita-cita dan mungkin juga harapan.
Menurut Prof. Dr. Ir. Parmono Atmadi, perkembangan peran arsitek pada abad ke-20 ini pada umumnya dapat dikelompokkan dalam empat katagori, yakni di antaranya: a) arsitek yang menekankan keindahan; b) arsitek pengusaha; c) arsitek praktek umum; dan d) arsitek pembrontak.
Kemungkinan peran arsitek di masyarakat seperti yang diuraikan di atas, seharusnya dijelaskan secara mendalam pada calon arsitek selama pendidikan, sehingga setelah terjun di masyarakat mereka dapat dengan sadar memilih perannya sendiri. Dengan adanya berbagai peran arsitek di atas akan mudah menimbulkan kekeliruan pandangan masyarakat terhadap peran arsitek. Di sini yang paling kurang mengena adalah, apabila peran arsitek itu disamaratakan sebagai arsitek pengusaha atau pencari uang saja.
Peran arsitek cukup besar dan menentukan, sebab hampir seratus persen dari seluruh perancangan didominasi oleh arsitek. Hal ini juga dialami di Indonesia pada tahap awal dari pembangunan (1970-1974). Tetapi, hanya beberapa pesen saja yang berjalan di atas peran profesinya sebagai arsitek, dengan menanamkan kaidah-kaidah arsitektur yang ada di pundaknya. Arsitek yang berwatak bukanlah seorang yang pandai memasang bentuk-bentuk yang aneh dan selalu menuruti perintah bouwheer.
Menurut Moris Lapidus, seorang arsitek harus mempunyai kemampuan planning and design, salesmanship, organisasi dan bussines management, keahlian dalam detail dan spesifikasinya, dan sebagainya. Kita harus mengakui tidak semua arsitek mempunyai kemampuan lengkap, masing-masing mempunyai ciri dan keahlian tersendiri, maka ha inilah yang sangat perlu dikemukakan untuk saling mengisi.
Setelah kita melihat sebagian dari peran arsitek, akan terlihat pula tugas yang paling mendasar sampai dengan yang paling tinggi, yakni arsitek sebagai titik sentral dari segala kegiatan perancangan.
Pekerjaan arsitek selalu berhadapan dengan manusia, manusia pemakai jasa khususnya, masyarakat pada umumnya, yang secara luas nantinya akan berhadapan dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Untuk ke dalam, arsitek juga selalu dihadapkan pada pengembangan sumber daya manusia, produksi jasa, yang selalu meibatkan arsitek dalam suatu kerja sama. Ini perlu digaris bawahi dan ditekankan karena sebagai arsitek selalu melayani kepentingan manusia. Jadi perlu adanya ilmu mengenai bidang tingkah laku dan kepribadian manusia.
Dari perjalanan dalam membuka lembaran peran arsitek, masih terus dibenahi untuk bisa mendapatkan hasil yang jelas. Ternyata peran arsitek yang telah berjalan ke depan perlu mempunyai fakta dan pandangan, memberi tanda, bahwa perannya masa kini dan masa depan haruslah mampu mengekspresikan kemanusiaan.
Arsitek masih merupakan idola yang dihormati, bahkan dihargai. Di mata masyarakat ia merupakan harapan dan tumpuan guna mewujudkan cita-cita.
Arsitek pada waktu ini, hanya mampu mampu mendidik dirinya sendiri menjadi arsitek, sebelum ia secara bertahap mengarsiteki orang lain maupun masyarakat. Di sinilah peran yang terpenting akan kelihatan sebelum ia memberikan pengetahuan kersitekturan itu kepada seluruh anggota masyarakat. Bukan mustahil bila arsitek akan tersesat dan kehilangan identitas, karena ia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik, meskipun secara kodrati arsitek memang selalu dihadapkan pilihan sulit dalam menjalankan peran profesinya.
Ambiguitas selalu membayanginya, dan ia pun harus membuat sintesa antara teknokrat atau seniman. Arsitek bukan seorang dewa yang dapat mengambil keputusan secara sepihak. Makin lama masyarakat akan semakin tajam terhadap peran arsitek, dan yang ditakutkan lagi apabila muncul arsitek tak berwatak, yang akan menimbulkan kegelisahan masyarakat. Tapi yang mungkin sangat menyedihkan, bahwa mati dan hidupnya seorang arsitek sangat ditentukan oleh kesediaannya kompromi dengan selera bouwheer. Kepada masyarakat, tak perlu berkecil hati tidak sedikit arsitek tidak sedikit arsitek yang mengabdi bagi kepentingan pemerintah (politik, ekonomi, sosial, dsb.), dengan ikrar dan janji pengabdiannya.
Namun demikian, rasanya kurang adil kalau atas dasar peran arsitek yang sedikit menyimpang dari tujuan asalnya, lantas diambil kesimpulan secara paksa, bahwa arsitek mau mengorbankan ilmunya secara mutlak, meskipun muncul pendapat yang bernada kritik terhadap peran arsitek dewasa ini. Peran arsitek seharusnya juga mencerminkan keluhuran, pengabdian yang sempurna, keserhanaan dalam segala hal dan mudah untuk dimengerti. Memang besar tanggung jawabnya baik moral maupun materielnya untuk waktu yang panjang.
Terkadang arsitek lebih sering menutup diri dan hanya membuka mata apabila proyek itu semakin besar. Akan tetapi, menurut seorang arsitek dan budayawan Ir. Roby Sularto, tidak jarang terpaksa menelan ludak karena ia hanya menerima fee (imbalan jasa) yang jauh lebih rendah “pengawas formil” yang hanya duduk dibelakang meja. Sadar ataupun tidak ini merupakan suatu kenyataan, meskipun secara umum sudah ada aturannya, kode etik arsitek, dan sebagainya. Namun ini belum bisa menjamin arsitek untuk dapat berperan sebagain arsitek. Peranan arsitek bukan suatu perjalanan yang penuh kenikmatan saja, bukan pula sekedar alat atau cara untuk kepentingan institut atau universitas yang dapat menampung dan meluluskan arsitek-arsitek muda, sedangkan di luar belum tentu dapat bekerja sebagai arsitek.
Tulisan ini diharapkan tidak untuk mengadili peran arsitek yang dewasa ini menjasi gunjingan masyarakat, tetapi ingin meneteskan benang-benang emas di atas cakarawala, agar tetesan ini menjadi mercusuar dalam pengembaraannya untuk mendapatkan identitas. Karena itulah hakekat utama dari suatu hasil karya arsitektur bukan semata untuk mencari asap dapur dan status, tetapi juga untuk melahirkan situasi dan kondisi yang dapat memberikan makna bagi kehidupan. Apalagi bila kita mau dan ingin bercermin dengan jujur melihat nilai-nilai yang ada di masyarakat, mungkin gunjingan tajam dari masyarakat tidak akan sejauh itu. Dengan demikian, saya yakin bahwa kita mampu melahirkan bahkan menciptakan arsitek di tempat ia harus melakukan perannya, bukan sekedar manusia yang diberi nama “arsitek”.


Author » Unknown
Post Title » PERAN ARSITEK DI SIMPANG JALAN
Post Url » http://www.zulmaseke.web.id/2010/12/peran-arsitek-di-simpang-jalan.html
Time » Sabtu, Desember 04, 2010
Responds » 0
Labels »

Artikel Terkait:

Posting Komentar
 

About Me

foto saya
Im Zulkiliyanto M. From Gorontalo North Sulawesi, I am a simple interested in new and useful things, hopefully get a new experience to innovate to create more advanced. Sharing is fun.[...]

Pengikut

Visitor


free counters