WAJAH ARSITEKTUR INDONESIA YANG RESAH




saat ini masih banyak orang mempunyai pandangan yang selalu berbeda tentang arsitektur. Aneka ragam dalam pengertian yang sangat kompleks. Bukan lagi suatu perbedaan pendapat, yang mungkin masih bisa ditelusuri akar maslahnya. Perbedaan cara melihat menghasilkan pendapat simpang siur yang tidak bisa dikenal lagi ujung pangkalnya. Arsitektur adalah pemkiran yang matang dalam pembentukan ruang, demikian Louis I. Kahn, pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang. Pada dasarnya arsitektur tidak dapat berbohong, walau mungkin tujuannya dapat diragukan, tetapi ungkapannya selalu jujur.
Dalam keadaan seperti ini, telah muncul bangunan-bangunan era baru, mulai dari rumah tinggal sampai pada bangunan pencakar langit, kemudian muncul juga gaya spanyolan dengan kolom-kolom korintian yang sudah melanda masyarakat begitu hebatnya, di kota-kota besar sampai pelosok-pelosok desa.
Apakah ini yang disebut arsitektur modern? Atau suatu dialog antara manusia dengan lingkungannya, maka pengaruh sebaliknya dapat pula terjadi, yaitu suasana ruang akan mempengaruhi perilaku dan pola hidup manusia.

Merampok Matahari
Mereka berusaha menyimpulkan inikah arsitektur Indonesia. Bangunan-bangunan pencakar langit menjulang ke angkasa dengan bentuk kaku berselimut kaca seolah sedang “merampok matahari”, tanpa sadar ada pula yang mengaguminya sebagai teknologi abad modern di Indonesia.
Terkadang teknologi dipersalahkan merusak keindahan dan melawan kodrat manusia. Ada pendapat yang melihat arsitektur dengan teknologinya sebagai biang keladi macam-macam pengaruh buruk, bahkan sebagai runtuhnya arsitektur kita. Masyarakat dijadikan produk-produk dari operasi-operasi tertentu, cara-cara berpikir dan berbuat serba baru. Secara operasionalistis kita dirongrong dan kehilangan wajah kita sendiri, mungkin juga identitas kita sendiri.
Tidak dapat disangkal, bahwa perkembangan arsitektur yang dahsyat itu sering kali hampir tidak terkendalikan lagi. Namun pandangan-pandangan itu terlalu jauh dalam menyimak perkembangan arsitektur kita, memang macam itulah wajah dan permasalahan arsitektur kita pada saat ini di Indonesia.

Tradisional
Arsitektur tradisional di Indonesia memang merupakan sebuah gejala yang unik, sebagian besar tetap berfungsi dalam pengertian yang selengkap-lengkapnya. Meskipun masih dalam impian, terkadang sudah merasa punya arah, dengan karakter universal yang bisa diciptakan berdasar teknologi dan diimbangi oleh sosio-kultural serta ekologi. Menurut Robi Sularto, agar bisa mewakili citra masyarakat pada jarak yang paling dekat, arsitektur tradisional bisa diambil sebagai cikal bakal. Kita harus mempunyai corak sendiri, meskipun meskipun senantiasa dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan lain, objek berpikir yang sebenarnya adalah masyarakat dengan seluruh situasi kultural dan intelektualnya. Gaya nasional yang benar-benar bisa kita banggakan sebenarnya belum ditemukan oleh arsitek-arsitek kita, demikian kata Prof. Dr. Koentjaraningrat. Suatu gedung seperti Wisma Nusantara di Jakarta, meskipun indah dan bermutu, sama sekali belum mengandung unsur-unsur khas Indonesia. Banyak gedung baru di berbagai kota di Indonesia belum memperlihatkan suatu kepribadian yang kuat. Walaupun usaha untuk mengolah unsur-unsur tertentu dari seni arsitektur Indonesia sudah dicoba. Ini pun bukan suatu yang dogmatis. Banyak orang bertanya-tanya seperti apa wajah arsitektur kita? Setelah bentuk-bentuk spanyolan melanda kita beberapa tahun yang lalu, kemudian muncul Sindrom Colombusnya Eko Budihardjo (Kompas 16 Maret 1985), yang menjelaskan adanya kecenderungan arsitek yang penuh dengan ledakan ambisi untuk setiap kali menciptakan karya arsitektur baru. Adanya gerakan “kebangunan kembali” terhadap arsitektur asli Indonesia, yang disebut oleh YB. Mangunwijaya sebagai “Arsitektur Kenusantaraan” (Suara Indonesia 12 Maret 1985), kemudian masih ditambah lagi tentang Gerakan Arsitektur Alternatifnya Darwis Khudori, suatu pelajaran dari kolong jembatan (Kompas 17 Maret 1985). Betapa rapuhnya arsitektur tradisional kita. Dilanda secara besar-besaran, tanpa memberi peluang sedikit pun bagi arsitektur kita.

Konsep Indisch
Perkembangan ungkapan bangunan selanjutnya dilakukan melalui proses asimilasi, yang merupakan perpaduan dari konsep perancangan bangunan-bangunan asing dan konsep perancangan bangunan setempat. Karena besar kaitannya dengan masyarakat, maka arsitektur tersebut sudah meresap keseluruh kehidupan masyarakat pada waktu itu. Dialog dari kedua konsep tersebut berjalan tahap demi tahap yang akhirnya dapat menghasilkan karakter bangunan sendiri. Salah satu yang menonjol adalah “Arsitektur Indisch” yang berkembang pada permulaan abad ini di Indonesia, yang konon membawa aliran romantisme, dengan pola-pola geometriknya merupakan struktur dasar yang tidak bisa ditinggalkan. Hal ini pun bisa dilihat pada beberapa bangunan seperti Istana Presiden di Merdeka Utara Jakarta, Istana Bogor, Gedung Negara Yogyakarta, dan sebagainya merupakan contoh bangunan Indisch.
Kegemilangan demi kegemilangan dari arsitektur tradisionil Indonesia, arsitektur Indisch, arsitektur spanyolan sampai pada arsitektur modern abad ini sudah berlangsung perannya. Dengan segala prinsip-prinsipnya, bahkan lewat teori-teori yang belum tentu dapat dimengerti oleh masyarakat kita. Dunia arsitektur memang sudah penuh dengan loncatan.
Dua puluh tahun yang lalu, bagi sementara arsitek modernis hakekat arsitektur adalah ruang. Sepuluh tahun yang lalu hakekat tersebut beralih kepada pembentukan tempat, identitas dan personalisasi. Sedangkan akhir-akhir ini arsitektur banyak dihubungkan dengan energi, lingkungan dan ekologi, semantik dan seni pahat (sculpture). Memang ada pendapat mengatakan bahwa banyak ungkapan arsitektur yang baik telah dibangun tanpa arsitek. Bernard Rudofsky dalam buku “Architecture without Architects” menjelaskan suatu konsep arsitektur dalam arti yang sempit, dengan mengemukakan fakta-fakta penyelesaian arsitektur. Pada waktu yang lalu di beberapa daerah tertentu ungkapan arsitektur tidak direncanakan atau dibangun oleh seorang arsitek, tetapi dibangun oleh masyarakat secara bersama. Dalam batasan ini, arsitektur tidak hanya mencakup bangunan saja, tapi akan mencvakup pula, lingkungan kota sampai wilayah. Batasan ini akan berkembang terus sesuai perkembangan teknologi dan ilmu.

Siapa Yang Bertanggung Jawab
Subjek perubahan tidak hanya pada masyarakat, tetapi arsiteklah yang paling bertanggung jawab, terkadang ebagai manusia yang berdemensi satu ini tidak utuh lagi. Masyarakat dan arsitek sama-sama berjalan berdampingan, kadang bersahabat dengan lingkungan, kadang merusak lingkungan, mereka saling melempar tanggung jawab. Inilah gambaran erosi kepribadian seorang arsitek di bawah kemajuan teknologi, dengan sikap konformistis seolah ingin menimbulkan kesadaran baru. Secara singkat kedudukan arsitek di masyarakat dirasakan masih perlu dimantapkan. Asosiasi profesi masih belum banyak didengar pendapatnya oleh masyarakat, dan klasifikasi arsitek masih dijadikan masalah, akibatnya tidak banyak bangunan dan lingkungan yang dirancang dan dibangun dengan baik, dan banyak hasil karya arsitektur dibongkar tanpa dasar yang kuat.
Kebenaran ide dan kretifitas yang mereka kejar, sebenarnya adalah suatu abstraksi dari suatu kebenaran yang lebih luas, yakni hal-hal dalam seluruh dinamika kehidupannya. Kebenaran berkembang dalam sejarah, dan harus memang kita tunggu. Untuk menentukan arti yang sebenarnya di dalam kaidah arsitektur, tidak terdapat pertentangan mutlak antara afirmasi dan negasi, antara ya dan tidak. Tiap-tiap ucapan arsitek hanya menyatakan satu segi dari realitas yang tertentu. Ide-ide saling melawan dan sekalipun saling menyatu untuk menjadi kesatuan dalam ide baru, demikian menurut Hegel. Hal semacam ini, akan berjalan secara dialektis. Lewat rasio, seorang arsitek dapat menerangi kabut perasaan dan keinginan, melepas dari bobot materialnya, sehingga terjadi suatu penjernihan (katharsis).
Pada khasanah lain sesuai dengan proses pertumbuhan kota, bangunan-bangunan baru bermunculan, di satu pihak ingin menancapkan “arsitektur modern”, dan di lain pihak ingin mendengungkan “arsitektur berkepribadian Indonesia”. Kedua gejala ini memang sulit untuk dibendung, berbagai gagasn dicoba untuk menyelesaikan masalah dengan segala inspirasinya.. Di satu sisi, mencoba memecahkan persoalan dalam perencanaan sesuai kondisi tropis di Indonesia, di sisi lain ditantang untuk menunjukkan segala ide yang intuitif, agar jadi kenyataan. Keduanya, tidak selamanya bisa disatukan, kalaupun bisa merupakan gebrakan baru bagi dunia arsitektur di Indonesia. Meskipun harus melalui proses yang panjang agar benar-benar dapat di atas bumi ini.
Seni arsitektur (bangunan) sebenarnya adalah, suatu bidang kesenian yang amat cocok untuk dapat mempertinggi rasa kebanggaan dan identitas suatu bangsa. Tapi perlu kita ingat, corak arsitektur yang barangkali baik dan memuaskan bagi suatu bangsa, belum tentu baik atau memuaskan bagi bangsa lain. Wujudnya sangat fisik dan lokasinya di kota-kota besar, yang sering dikunjungi bangsa-bangsa dari segala penjuru dunia, sehingga dapat tampak dari luar.

Arsitektur Makhluk Sosial
Arsitek harus mewujudkan diri sebagai makhluk sosial. Sosialnya seorang arsitek tidak dipandang lagi sebagai realitas melainkan sebagai suatu keharusan. Dengan kata lain, arsitek tidak dipandang lagi sebagai suatu kenyataan fisik, melainkan sebagai suatu kenyataan moral, yang sudah menyatakan aksioma dasar. Para arsitek sendiri nampaknya sudah siap.
“Bagi saya probelmnya adalah 150 juta manusia, dengan keadaan sosio-ekonomi, sosio-politik dan sosio-kultural yang emah karena kemiskinan”, demikian YB. Mangunwijaya. Berbeda dengan “arsitektur modern” yang kering, arsitek Indonesia menghadapi masalah yang kaya dengan kemanusiaan. Tidak hanya di tanah air kita, di Amerika Serikat pun pengaruh reformasi sosial sangat mendorong para arsitek untuk lebih memperhatikan bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi sosial yang besar di antaranya, perkantoran, rumah susun, dan bangunan-bangunan industri. Mungkin hal ini terjadi karena berbagai macam perubahan sikap dalam kehidupan manusia, membangunkan rasa bertanya-tanya tentang eksistensi manusia.
Biarlah arsitektur berbuat dan biarlah berjalan (laissez faire, laissez aller), tidak bisa dibicarakan meskipun ia bermuara dalam tanda tanya. Keterasingan dari diri sendiri, oleh karena itu tidak mempunyai harga diri, arsitektur lahir dalam sejarah, berkembang dalam sejarah dan lenyap dalam sejarah. Karena itu watak dan moral harus selalu berjalan di depan, membimbing dan memberi arah pada segala kemampuan pribadi arsitek yang dikerahkan dalam melaksanakan pembangunan.
Berbagai babak dari perjalanan arsitektur telah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang berbeda-beda. Mulai dari cara yang lunak sampai cara-cara yang agak keras, mulai dari diskusi sampai pada seminar, bermacam batasan arsitektur terguncang oleh aneka ragam pendapat baru. Namun dari permasalahan dunia arsitektur di Indonsia, para arsitek kita mempunyai tujuan yang mulia, yaitu mengemban tugas sejarah untuk membangun masa depan bangsa.


Author » Zulkifliyanto M
Post Title » WAJAH ARSITEKTUR INDONESIA YANG RESAH
Post Url » http://www.zulmaseke.web.id/2010/12/wajah-arsitektur-indonesia-yang-resah.html
Time » Sabtu, Desember 04, 2010
Responds » 0
Labels »

Artikel Terkait:

Posting Komentar
 

About Me

foto saya
Im Zulkiliyanto M. From Gorontalo North Sulawesi, I am a simple interested in new and useful things, hopefully get a new experience to innovate to create more advanced. Sharing is fun.[...]

Pengikut

Visitor


free counters