Arsitektur Sebuah Bagan Kebudayaan




Berpangkal pada teori informasi Van Peursen melihat kebudayaan sebagai siasat manusia mnghadapi hari depan, maka dapat berarti juga bahwa kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Irama perjalanan kehidupan kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut, satu kebudayaan yang dapat menggambarkan perkembangan dari jaman dulu ke hari depan. Dengan melukiskan perkembangan kebudayaan dapat diperoleh keterangan mengapa kebudayaan mempunyai wujud seperti sekarang ini. Koentjaraningrat memberikan batasan tentang wujud kebudayaan sebagai berikut:
1. Wujud kebudayaan sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya;
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Maka arsitektur dapat diletakkan pada wujud kebudayaan sebagai benda fisik hasil karya manusia. Meskipun sebenarnya kalau kita urutkan arsitektur akan mencakup ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas. Pada bagian lain Herman Sorgel (1918), mengimplikasikan konsep pemikiran kebudayaan pada transformasi fisik perencanaan arsitektur, dan mencoba membedakan kebudayaan sebagai berikut:
1. Filosofi (filsafat), dihubungkan dengan jalan pikiran;
2. Kepercayaan, dihubungkan dengan jiwa; dan
3. Seni, dihubungkan dengan perasaan.
Arsitektur sebagai salah satu hasil karya budaya, dapat dijadikan petunjuk bagi perkembangan budaya suatu bangsa. Maka kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki susunan nilai-nilai dan kepercayaan tentang gambaran suatu dunia, yang mewujudkan sesuatu yang ideal.
Parmono Atmadi mengatakan, perkembangan arsitektur masa lampau yang tidak ditemukan keterangannya melalui tulisan yang otentik, hanya dapat ditelusuri melalui penelitian. Apakah itu berupa pengaruh kepercayaan, budaya ataupun politik, dan memang kalau kita lihat perkembangan arsitektur pada umumnya tercermin pada bangunan-bangunan peninggalan. Hal ini pun dapat terlihat pada bangunan candi Borobudur (Budha) dan candi Prambanan (Hindu), masing-masing mempunyai ciri atau karakter sendiri. Mungkin kalau kita simak lagi lebih dalam akan kembali pada konsep massa (candi) dan konsep tata ruang Bali), yang berkembang sesuai adat, kebudayaan serta kondisi lingkungan pada waktu itu. Konon menurut ceritera arsitek dari Borobudur adalah Gunadharma, kini dia beristirahat dipuncak pegunungan Menoreh sambil mengawasi candi ciptaannya dari abad ke abad. Sebagai candi Budha, Borobudur mempunyai tiga lingkungan fisik yang sesuai dengan pencerminan alam semesta, yaitu Kamadhatu: tempat manusia masih terbelenggu hawa nafsu (keserakahan) duniawi; Rupadhatu: tempat manusia telah membinasakan keinginannya akan tetapi masih terikat oleh faham (pengertian) dari dunia berwujud; Arupadhatu: tempat manusia setelah memperoleh kesempurnaan, kemudian dibebaskan sama sekali dari segala ikatan keduniawian.
Inilah suatu pencerminan “harmonic proportion” dari nilai religi dalam suatu wujud fisik yang ditampilkan secara sakral dan mempunyai nilai filosofis cukup dalam, yang meungkin mempunyai daya magis tersendiri. Memang sifat-sifat magis dapat kita jumpai pula dalam sebuah kuil di Afrika, tempat ibadah salah satu sekte Bantu, mempunyai tembok-tembok yang bermahkota patung dewa-dewa terutama dimaksudkan untuk menakjubkan mereka yang datang dari luar. Namun bagi orang Yunani, tembok-tembok kuil beserta serambi-serambi dengan tiang-tiang merupakan batas yang tegas untuk suatu ruang tertentu. Di dalam ruang itu terwujudlah kekuasaan dewa-dewa secara cemerlang, tidak hanya dalam patung besar dewa, melainkan juga karena efek estetis yang luhur dari taman-taman sekitarnya, dan garis tiang-tiang yang membubung ke atas. Kuil Yunani klasik mungkin dikembangkan berdasarkan tempat-tempat suci dalam hutan-hutan, tempat ibadat dan upacara-upacara mistis dari jaman dulu, sedang tiang-tiang melambangkan batang-batang pohon. Perkembangan yang bertitik tolak dari bentuk-bentuk mistis nampak dengan lebih jelas lagi dalam seni bangunan Islam di Afrika, terutama bila seni tersebut dipengaruhi oleh seni Negro. Masjid-masjid tersebut, betapa pun dikembangkan dalam suasana kebudayaan Negro, menarik perhatian kita karena arahnya yang vertikal, lurus ke atas seperti masjid di Mopi, Mali.
Inilah suatu mata rantai arsitektur yang sangat panjang ditilik dari falsafah, religi dan hasil karya budaya yang merupakan peradaban suatu bangsa. Seperti hasil kebudayaan dalam bentuk lain yang senantiasa meniti garis sejarahnya sendiri, maka arsitektur pun akan demikian. Pada sisi yang lain suatu nilai sejarah yang patut untuk kita ketahui adalah “Visvakarman”, merupakan warisan utama dari sebuah kebudayaan yang berasal dari India, tetapi nilai-nili identitas sebagai simbol-simbol arsitektur masih nampak terlihat. Visvakarman merupakan arsitek dari alam semesta, mereka terdiri dari empat kelompok, antara lain: (1) Staphati, ahli bangunan; (2) Sutra-grahin, tukang gambar; (3) Vardhaki, perencana; dan (4) Tashaka, tukang kayu. Arsitektur di sana diatur oleh Vasthu Purusha Mandala, di mana Mandala mengarahkan bentuk, Purusha memasalahkan insan dan, Vasthu melihat berbagai aspek masalah yang tersangkut dalam bangunan. Bali mempunyai Hasta Kosala Kosali, sedangkan masyarakat Bugis atau Makasar menamakan para arsitek sebagai Panrita Balla, di sini arsitek didudukkan sebagai pendeta pada peresmian sebuah rumah tradisional. Pada hakekatnya pembagian fungsi sudah dicanangkan waktu itu dan sudah digariskan sejak awal untuk dikagumi oleh pihak yang mengerti, karena arsitektur dan unsur-unsurnya selalu berkembang. Berkembang dalam perencanaan dan perancangan demikian juga pada fungsinya, dan akan mencakup bidang sosial-ekonomi, kebudayaan-seni dan kerekayasaan.


Author » Zulkifliyanto M
Post Title » Arsitektur Sebuah Bagan Kebudayaan
Post Url » http://www.zulmaseke.web.id/2010/12/arsitektur-sebuah-bagan-kebudayaan.html
Time » Jumat, Desember 03, 2010
Responds » 0
Labels »

Artikel Terkait:

Posting Komentar
 

About Me

foto saya
Im Zulkiliyanto M. From Gorontalo North Sulawesi, I am a simple interested in new and useful things, hopefully get a new experience to innovate to create more advanced. Sharing is fun.[...]

Pengikut

Visitor


free counters